Jelajah Bondowoso

Jelajah Bondowoso : Ijen Bagian 1 – Guest House Jampit dan Kawah Wurung

3 Komentar

Latar Belakang

Bondowoso merupakan kabupaten yang terletak di propinsi jawa timur. Karena letaknya yang bukan penghubung jalur ekonomi antara pulau jawa dan bali, kabupaten ini kurang dikenal. Namun kondisi geografisnya yang berada didataran tinggi dan dikelilingi oleh gunung-gunung membuat kabupaten ini memiliki banyak sekali potensi wisata.

Bicara mengenai tempat wisata, dikabupaten ini terdapat sebuah tempat yang cukup terkenal yaitu kawah ijen. Mungkin sebagian pembaca tahu kalau kawah ijen itu berada dikabupaten banyuwangi. Saya tidak bisa menyangkal hal itu. Sebenarnya kawah ijen merupakan perbatasan antara kabupaten bondowoso dan banyuwangi, dengan pembagian hasil alamnya dimiliki oleh banyuwangi, sedangkan untuk wisatanya (kawah ijen) dimiliki oleh bondowoso. Namun saya akui kalau pemda banyuwangi lebih gencar mempromosikan kawah ijen, sedangkan pemda bondowoso sendiri terkesan kurang memperhatikan potensi-potensi wisata yang berada diwilayahnya. Karena hal inilah saya tergerak untuk menjelajahi sekaligus mempromosikan potensi-potensi wisata yang berada dikabupaten ini.

Kenapa bondowoso? Kenapa bukan jember yang merupakan tempat tinggal saya (meskipun sekarang saya sedang kuliah di surabaya)? Alasannya cukup sederhana. Saya lahir dan menghabiskan masa kecil saya di bondowoso. Lalu kenapa dijudulnya ada ” ijen bagian 1″? Karena tidak mungkin saya menjelajahi semua potensi wisata yang berada di kawasan wisata ijen dalam waktu sehari. Selain itu saya juga masih mengumpulkan info-info dari narasumber saya mengenai potensi wisata yang berada di bondowoso, khususnya dalam hal ini ijen. Dan saya pasti akan menulis bagian 2, bagian 3 dan seterusnya.

The Journey Begins

Sebelumnya, tujuan dari perjalanan kali ini yang telah direncanakan antara lain guest house jampit, kawah wurung, dan kawah telagaweru. Namun karena beberapa pertimbangan akhirnya tujuan yang dicapai adalah guest house jampit, jabal kirmit, kawah wurung, dan air terjun kali pait.

Sabtu, 28 Desember 2013. Seperti biasa kalau berada dirumah, alarm pun tidak bisa membangunkan saya sehingga orang tua yang harus membangunkan. Apalagi semalam setelah kopdar bersama rekan-rekan princess saya baru bisa tidur jam 1 pagi (Maaf pakechap dan pak rudi, saya tidak cerita kalau mau jalan. Padahal mereka berdua udah gatel pengen jalan). Pagi itu chat masuk dari saudara saya di bondowoso menanyakan apakah jadi mau jalan atau tidak. Tentu saja saya balas JADI. Motor sudah di cek kemarin, sekarang hanya tinggal mengecek perlengkapan yang mau dibawa. Berangkat dari rumah sekitar jam 6 pagi, saya sampai dirumah saudara saya di kecamatan kotakulon, bondowoso jam 7 pagi. Istirahat sebentar sembari menyiapkan perbekalan, jam 7.30 kami berangkat berboncengan. Awalnya dia mau membawa motor sendiri, namun karena kondisi ban yang sudah tipis akhirnya kita berboncengan.

Saya dan Mas Agung sebelum keberangkatan, kami adalah DJ (Double Jomblo)

Sempat bingung, entah kenapa saat itu motor larinya serasa tidak kencang. Padahal bacaan di speedometer sudah 3 digit angka, jarum rpm pun sudah tinggi, dan tidak ada kendaraan yang bisa mengejar. Namun entah mengapa saya merasa seperti pada kecepatan 60 kmpj. Ah, mungkin speedometer di otak saya sudah tidak sinkron dengan speedometer motor gara-gara perjalanan jember-bondowoso saya ngebut. Jadilah saya sering diingatkan untuk pelan-pelan oleh mas agung.

Melewati beberapa spbu, sengaja saya tidak berhenti untuk mengisi bahan bakar. Sengaja saya melakukan hal itu karena saya ingin membuktikan seberapa irit sih si irina ini (dan karena ini kami berdua ketar-ketir diatas, karena kalau sudah lewat jalan off road maka hitungan perbandingan konsumsi bbm motor berubah total). Dengan kondisi bahan bakar setengah tangki (dari jember), saya langsung mengarahkan irina menuju kawasan ijen.

Kondisi jalan sedikit berbeda dibandingkan terakhir kali saya kesini bulan juni lalu. Ada beberapa tambahan kerusakan jalan dan jebakan pasir ditikungan, sehingga membuat saya harus lebih waspada.

Jam 8.30 kami sampai di pos pertama. Kesempatan untuk istirahat sekaligus bertanya ke petugas penjaga pos mengenai arah menuju jampit. Kami diberi tahu kalau jaraknya cukup dekat, sekitar 17 km dari pos ini. Tapi kami diingatkan kalau sepanjang jalan itu adalah makadam. Tentu saja hal itu tidak menyurutkan semangat kami, apalagi saya sangat bersemangat kalau ketemu jalan makadam.

Cek kondisi motor, baut-baut tidak ada yang longgar. Secara keseluruhan masih bagus, hanya saja diketinggian ini motor sudah tidak bisa langsam. Hal ini menurut saya sedikit aneh, karena ketika irina saya bawa ke bromo mesin masih bisa menyala ketika tidak di gas, walaupun putaran mesinnya sedikit turun dari kondisi normal. Namun disini jika mesin dinyalakan dan dibiarkan saja tanpa menarik gas, mesin akan mati. Entah mengapa ketika di ijen motor tidak bisa langsam dan performanya drop. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada irina saja, dulu ketika saya masih ditemani irene pun juga sama. Biarlah, mungkin karena kadar oksigen yang tipis membuat hal itu terjadi. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju jampit.

Seperti Bukan 14 KM

Sampai di pertigaan koramil jampit, sesuai dengan petunjuk dari bapak petugas penjaga di pos pertama saya belok kanan. Kondisi jalan masih cukup bagus, beraspal walaupun bergelombang dan berlubang-lubang. Kondisi jalan ini hanya sekitar 200 meter, setelah itu jalan berubah menjadi makadam. Cukup terkejut dengan jalan ini, namun tantangan seperti inilah yang menurut saya membuat perjalanan menjadi lebih seru.

Sempat berhenti untuk mengecek GPS (Gunakan Penduduk Sekitar, bukan Global Positioning System) karena tidak yakin dengan arah yang dituju. Info yang didapat hanya tinggal mengikuti jalan ini saja sepanjang 14 kilometer dengan kondisi jalan hampir seluruhnya seperti ini. Walaupun kondisi jalannya berubah-ubah, terkadang hanya batu pecah yang ditata rapi, sebagian besar batu kali yang dibiarkan berserakan, dan sebagian kecil jalan berbatu yang sudah ditimbun dengan tanah. Sedikit nasihat dari saya, nikmati saja jalannya. Tidak usah melihat odometer karena hanya akan membuat sakit hati.

Dari pertigaan ini belok kanan

Melewati kampung pertama, tidak ada masalah karena hanya ada satu jalan. Melewati kampung kedua, ada jalan bercabang dan tidak ada petunjuk jalan. Yasudah GPS lagi, cari penduduk sekitar. Mas agung yang bertanya, karena dia nilai toefl untuk bahasa inggris timur (madura) jauh lebih tinggi daripada saya yang ngomongnya belepotan ini. Dari jauh saya mengerti semua pembicaraannya, hanya satu kata yang membuat saya bingung yaitu KESOS. Apa sih arti dari kesos, mungkin bahasa madura halus pikir saya. Info yang didapat kami harus belok kiri ke jalan menurun untuk menuju jampit.

Kondisi jalan yang sempat terfoto

Dari sini kondisi jalan sudah lebih baik. Jalan sudah cor-coran, walaupun hanya sekitar kampung saja. Setelah itu kembali lagi ke jalan makadam. Ikuti jalan makadam saja, jangan berbelok masuk ke kebun. Beberapa kali berpapasan dengan motor lain, namun ada satu motor yang membuat kita terheran-heran. Ada motor matic H*nda Be*t yang berpapasan dengan kita, dan yang membuat heran lagi rider dan boncenger kedua-duanya perempuan. Dengan kondisi jalan seperti ini membawa motor matic dan yang nyetir perempuan benar-benar sesuatu yang luar biasa menurut saya. Tapi hal itu yang membuat saya semakin bersemangat, kalau motor matic dengan rider permpuan saja bisa sampai sejauh ini masa saya dengan irina tidak.

Sebelum memasuki desa jampit, kondisi jalan menjadi lebih baik. Jalan menurun kemudian menanjak yang terbuat dari cor-coran mengingatkan saya pada suatu tempat, yaitu bromo. Sama-sama jalan cor-coran dan sudut kemiringannya juga besar. Setelah ini jalan berubah menjadi aspal dan disisi kanan kiri merupakan hutan pinus. Ikuti jalan saja sampai berubah menjadi jalan tanah dan sampailah kita di desa jampit. Akhirnya 14 kilometer jalan makadam berhasil saya lalui. Berhenti di percabangan jalan ini, ada papan penunjuk jalan beserta jaraknya. Dari papan penunjuk jalan inilah saya baru mengerti arti dari KESOS.

Jalan menurun cor-coran yang mengingatkan saya dengan bromo

Mendekati desa jampit

Hmm… jadi itu maksudnya KESOS

Jampit, Guest House dan Agrowisata Strawberry

Sampai di desa jampit sekitar jam 10. Di percabangan jalan tadi kami memutuskan untuk belok kanan menuju guest house. Sebelum sampai di guest house, disebelah kiri terdapat ladang strawberry. Di ladang ini kita bisa memetik sendiri buah strawberry yang kita inginkan. Namun untuk saat ini hal tersebut dilarang karena pada saat musim hujan produksi buah strawberry menurun. Untuk menjaga produksi supaya tidak kehilangan pasar, maka pengunjung dilarang untuk memetik buah strawberry. Kecuali pada saat panen, kita diperkenankan untuk membeli langsung. Panen buah strawberry dilakukan pada hari senin dan kamis tiap minggunya. Berbeda jika kita berkunjung pada musim kemarau, pada saat itu produksi buah strawberry sangat melimpah sehingga pengunjung diperbolehkan untuk memetik sendiri buah yang diinginkan.

Menuju kantor afdeling jampit kami disambut oleh pak sugiarto, juru tulis dikantor ini. Sembari beristirahat, kami mengobrol banyak dengan pak sugiarto (walaupun saya cuma jadi pendengar). Setelah cukup mengobrol, kami meminta izin untuk menuju guest house jampit. Lokasinya tepat berada didepan kantor afdeling sekitar 150 meter. Pada saat itu sedang ada tamu yang menginap di guest house. Kebetulan ada penjaga yang bernama pak eko. Lalu kami mengobrol dengan beliau.

Sembari menunggu tamu check out, kami memakan bekal yang tadi dibawa

Informasi yang didapat, tarif untuk menyewa guest house ini adalah 2 juta rupiah per-malam. Dan untuk booking dilakukan di guest house arabica di sempol. Kapasitas dari guest house ini adalah 20 orang, ada tambahan extra bed jika tamu yang menginap melebihi kapasitas, tentu saja ada tambahan biaya. Fasilitas yang disediakan yaitu listrik, air hangat, dan sarapan satu kali (kopi dan teh). Jadi, kalau menginap disini harus membawa persediaan makanan sendiri karena kita diperkenankan menggunakan dapur. Ketika malam jangan lupa untuk menyalakan perapian, karena ketika malam dapat mencapai suhu dibawah 0 derajat celcius. Info tambahan, suhu di ijen pada saat musim hujan lebih hangat daripada saat musim kemarau.

Tamu sudah check-out, kami menuju guest house. Disana ada pak sugiarto, dan kami diperkenankan untuk masuk guest house melihat-lihat bagian dalam.

Mas Agung dan Pak Sugiarto

Koordinat Guest House Jampit : -8.074722, 114.138333

Bisa naik, tapi tidak bisa turun

Selesai melihat-lihat bagian dalam guest house, kami pamit ke semua petugas yang berada disana. Sekitar jam setengah 12 siang, kami bertolak menuju kawah wurung. Sebelumnya kami sudah diberi petunjuk jalan oleh bapak-bapak petugas disana. Karena dihutan banyak percabangan jalan, dan jika salah belo bisa-bisa kita tersesat. Mengikuti petunjuk dari petugas tadi, kami bertolak meninggalkan jampit menuju kawah wurung.

Menuju Kawah Wurung

Guest House Jampit

Saya membawa irina sesuai dengan petunjuk dari bapak-bapak tadi. Lama kelamaan bingung juga, akhirnya saya menggunakan GPS (kali ini GPS beneran). Ambil handphone, buka aplikasi navit*l. Tunggu sebentar, setelah lock dengan satelit muncul lokasi saya saat itu. Karena saya tidak memiliki koordinat dari kawah wurung, saya arahkan ke kawah ijen saja. Sembari berjalan kami mencari orang untuk ditanyai (pake double GPS, hehehe)

Berkutat dengan GPS

Mengikuti arahan dari GPS, sesampainya di pertigaan saya sedikit tertarik dengan lokasi jabal kirmit yang muncul dilayar handphone. Kebetulan disitu ada orang, jadilah kita bertanya ke bapak tersebut. Ketika ditanya ada apa didepan, bapak itu cuma menjawab didepan itu bagus pemandangannya mas. Yasudah, setelah berterimakasih kami melanjutkan perjalanan mengecek pemandangan yang dimaksud oleh bapak tadi. Ternyata pemandangan yang disuguhkan memang sungguh indah.

Puas foto-foto disini, kami melanjutkan perjalanan menuju kawah wurung. Putar balik, kami bertemu dengan bapak tadi. Berhenti, kami mengobrol lagi sembari bertanya mengenai jalan menuju kawah wurung. Menurut pak Frendi, hanya ikuti jalan yang tadi. Berarti rute yang ditunjukkan GPS sudah benar. Beliau juga bercerita bahwa sebenarnya disini ada suatu hal yang menarik. Daerah ini oleh penduduk sekitar disebut lengker patek (anjing tidur). Menurut pak frendi, jika daerah ini dilihat dari kebun K formasi bukit-bukit yang ada membentuk suatu pemandangan yang mirip dengan anjing sedang tidur. Kebetulan pak frendi ini merupakan mandor dikebun jampit. Jadi dia bisa mengajak kita menuju kebun K untuk melihat itu. Namun sayang pak frendi sedang sibung mengurusi kebunnya, selain itu menurut pak frendi lebih baik melihat pada saat bulan juli-agustus. Sehingga mungkin lain kali saya akan kesini lagi untuk melihat lengker patek bersama pak frendi.

Pamit ke pak frendi, kami melanjutkan perjalan menuju kawah wurung. Berbekal informasi dari pak frendi dan GPS, saya memacu irene melewati hutan dan jalan setapak. Kondisi jalan sebagian adalah setapak, namun ada beberapa bagian yang berpasir tebal sehingga menyebabkan motor oleng. Lagi-lagi hal ini mengingatkan saya dengan bromo. Setelah perjalanan sekitar 20 menit, kami sampai di kawah wurung.

Dari tempat ini saya melihat ada jalan menuju kebawah. Dan kita memang tertarik dengan padang savana yang ada dibawah. Jadilah kita melanjutkan perjalan mencari jalan tersebut. Bertemu dengan pertigaan, saya belok kiri berharap ada jalan turun menuju kawah wurung. Jalanan menanjak dan licin tidak menjadi masalah bagi irina. Yang menjadi masalah adalah bensin. Semenjak dari sini saya baru sadar kalau bensin yang ada di tangki irina sudah sedikit. Tidak ada alat ukur, meteran bensin sudah sejak september lalu tidak berfungsi. Tapi dengan keyakinan bahwa irina ini irit, saya lanjutkan saja. Sesampainya di atas, sedikit kecewa karena kami tidak menemukan jalan yang tadi kami lihat. Sepertinya jalan itu hanya cukup untuk orang saja yang lewat, tidak untuk kendaraan. Karena kami melihat ada orang dibawah, tapi tidak ada kendaraan. Sedikit mengecewakan, tapi sebagai gantinya pemandangan yang terpampang didepan kami sungguh menakjubkan.

Mencari jalan turun

Menuju puncak bukit

Turun dari puncak bukit

Koordinat Jabal Kirmit : sekitar -8.067782,114.152447
Koordinat Kawah Wurung: -8.063670,114.168484

Akhir Perjalanan

Setelah puas berada di atas kawah wurung, kami melanjutkan perjalanan menuju kawah telagaweru. Masih mengikuti petunjuk dari GPS, saya memacu irina melewati hutan-hutan dengan jalanan yang kurang lebih kondisinya sama seperti sebelumnya. Sampai di suatu desa (saya lupa namanya), ada pertigaan kami belok kanan. Karena kurang yakin akhirnya kami bertanya kepada penduduk sekitar. Ternyata jalan yang ditunjukkan GPS sudah benar. Kami melanjutkan perjalanan, dan kondisi jalan masih berupa jalan makadam.

Akhirnya kami bertemu dengan jalan aspal, senangnyaa. Kami belok kanan menuju kawah telagaweru. Ternyata kawah telagaweru searah menuju kawah ijen, hanya saja kawah telagaweru lokasinya sebelum kawah ijen (lokasi bisa dilihat di google maps). Namun karena pertimbangan bensin sudah menipis, akhirnya kami batal menuju kawah telagaweru. Kami memutuskan menuju paltuding, tapi sebelum itu kami menuju air terjun kali pait. Menurut narasumber saya, diatas air terjun ini dengan menyusuri aliran sungai kita akan menjumpai sungai ini melewati sebuah celah yang mirip seperti gua dan ada tempat edelweis berbunga.

Seingat saya desa yang barusan saya lewati namanya bukan curah macan

Apadaya, selain fisik sudah kelelahan, waktu juga kurang mencukupi. Saya tidak tega meninggalkan irina sendirian tanpa pengawasan. Dan satu hal yang membuat saya ingin segara beranjak dari tempat ini karena disini NSFJ (Not Safe For Jomblo). Dimana-mana banyak pasangan, entah yang masih kecil, anak muda, maupun orang tua. Saya dan mas agung segera turun untuk melanjutkan perjalanan menuju paltuding.

Pasangan dimana-mana, benar-benar Not Safe For Jomblo

Karena di paltuding kami tidak bisa sholat dhuhur, akhirnya kami turun ke afdeling terdekat untuk sholat. Setelah sholat, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju bondowoso. Jam setengah lima sore, kami sampai di rumah mas agung. Dan itu bensin di tangki irina masih ada (semenjak turun saya tidak mampir ke SPBU sama sekali). Istirahat, jam 7 malam saya kembali ke kota jember menuju kasur yang sejak tadi memanggil-manggil.

Iklan

3 thoughts on “Jelajah Bondowoso : Ijen Bagian 1 – Guest House Jampit dan Kawah Wurung

  1. Ping-balik: TRAVELNATIC GOES TO BONDOWOSO PART 2 | Travelnatic

  2. Ping-balik: EKSPLORE BONDOWOSO | Dya Iganov

  3. Ping-balik: EKSPLORE BONDOWOSO | ncandra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s